Minggu, 13 Oktober 2013

Hati hati

Aku berlari
Selama tujuh tahun ini
Mengejar surgaku yang hampir ku yakin pasti
Tapi, ini si hati yang tetap ngga ngerti
Balik lagi dan dia nanya lagi

Kamu yakin ?

Yakin, jawabku

Tapi kok aku, yang notabene bagian darimu, malah merasa sebaliknya ?

Kali ini aku diam saja

Kata orang apa yg keluar dari hati lah yang di tepati
Lalu kenapa begini ??

Biasanya orang akan bertanya dalam hati

Tapi justru hati yang bertanya padaku
Dan dengan bawel nya dia lagi lagi lagi bertanya :

Lalu apa yang kau lakukan 2 bulan ini ?
Memainkanku dan temanku ?

Ngga tau

Sabtu, 01 Desember 2012

Menjemput matahari

Kupandang hamparan hijau dengan batas biru yang mencolok
Indah, tapi tak mampu mengelabui si gundah gulanah yang bercokol

Hanya ada matahari di sini
Dan tak ada satupun yang mengharapkan hujan akan datang menemui mereka
Tak ada satupun yang mau susah susah bermimpi
Ironis, karna rupanya menggambarkan diriku

Tuhan berikan tempat yang pas untuk melupakan hujan
Bahkan pelangi pun tak ada untuk sekedar mengingatkan

Aku bertemankan peluh
Rasa gosong dan daki yang mewarnai jengkal demi jengkal kulit manja ini.

Aku masih suka berkhayal
Meskipun berlebihan, tapi cukup mengusir imaji palsu

Pundi pundi kenangan itu rupanya belum penuh penuh juga
Masih mampu ku tuang dan ku kumpulkan lagi jadi satu peristiwa

Tangisan penuh duka
Pelukan penuh makna
Andai ia berkata sebelumnya
Maka tak akan ada semua cerita ini.

Selamat tinggal

Kamis, 29 November 2012

Perempuan itu tergolek tak berdaya di atas meja.Semua jerih payah usahanya hancur sia sia, kini yg tertinggal hanya foto berbingkai marun tua dari suami dan anak anak nya yang ia tinggalkan demi mengejar pekerjaan ini. Ia masih ingat kata kata terakhir suaminya yang mengingatkannya bahwa resiko pekerjaan yang ia geluti ini besar sekali , dari segi moril maupun materiil

Pelangi

Aku hanya bisa memandangimu
Menetes satu demi satu ke tanah merah itu
Dingin angin bukan menyurutkanmu
Tapi justru memperkuat arti kehadiranmu

Entah kenapa tuhan turunkan hujan seminggu ini
Basahi dan bersihkan semua laknat di bekasi ini
Seakan Ia berkata , habiskan semua

Sang maha guntur menemanimu
Menjagamu dari sentuhan mahluk mahluk lain
Bahkan mahluk terpintar di muka bumi inipun, takluk dibawah suaranya
Apalagi cahanya

Seandainya kamu bisa mendengarku di sana
Di rumahmu yang jauh antah berantah
Di galaxy yang bahkan bintangpun tak mau berpijar
Aku rindu kamu

Aku rindu suaramu
Aku rindu bau hujanmu yang seringkali kau ucapkan dengan bahasa bindeng itu
Bahasa dimana semua benda punya jenis kelamin
Aku ingat kau pernah bilang, "aku suka bahasa itu"
Dan aku balik bertanya ? "Mengerti artinya?"
"Tidak" jawabmu dengan kepolosanmu

Hari ini ku tunggu kabar darimu
Seakan bumi enggan berputar mengganti siang jadi senja
Mengganti malam jadi terang

Aku hanya bisa membaca
Semua luka yang kau yang kau tulis layaknya candu
Aku hanya bisa membaca
Semua rindu pada lelaki payungmu
Aku hanya bisa membaca
Setiap genggaman dari masa lalumu

Aku ingin cemburu
Aku ingin mengutuk bajingan yg menyakitimu

Namun
Malaikat datang dengan wahyu "siapa kamu" ujarnya padaku

Aku terburu2
Dan ini bukan sifatku
Tapi kamu membiusku
Dan aku jatuh dalam kalimat kalimat syahdu buatanmu

Aku rindu kamu
Aku rindu bau rambutmu
Aku rindu kecupan kecilmu itu
Aku rindu air matamu
Aku rindu goresan yang kau buat di tiang listrik itu
Aku rindu pedal gas mobilmu yang membuat kaki ku ngilu
Aku rindu suaramu yg kau kirimkan lewat iphone malam itu
Aku rindu nikotin ku yang kamu sembunyikan waktu tanganku bergetar
Aku rindu gelas gelas garammu yang kamu ciduk sambil malu malu
Aku rindu duduk di trotoar pendek yang bikin pantatku biru
Aku rindu gang sempit rumahmu yang sendu itu
Aku rindu semua cerita2 inspiratifmu tentang salahsambung mu
Aku rindu pelukmu

Aku rindu pelukmu

Hujan, aku rindu kamu

Rabu, 28 November 2012

Kepada orang yang paling ku sayang..
Satu hari ini aku bersamamu, menemani setiap langkahmu yang tertatih
Dulu rasa ku buta
Buta karna kebencian dan terpendamnnya kasih sayang

Pagi sampai siang ini aku mengantarmu dari pintu ke pintu
Mengemis nasihat untuk tubuh renta mu
Kadang suka kadang kabar duka yang kita terima
Namun kau tetap tersenyum seperti biasa

No. 11

Saat pertemuan terakhir itu telah dekat
Aku bertanya pada pelindungku
Apa yang akan terjadi ?

"Bagaimana setelah ini ?" , tanyaku

"Yang bertanya lebih tau" , ujarnya (Dia pernah mengucapkan itu pada rasulnya dulu kala)

Jadi apa maksud Bos mu mengatur semua ini ?

Entahlah, Ia malas kuajak bicara kalau mengenai rancangannya

Tapi sungguh aku bingung..ini bukan menyembuhkan, tapi justru menambah dalamnya luka

Bodoh, bukankah kau sendiri dokter bedah ? Yang alih alih menyembuhkan tetapi malah memperdalam dan memperlebar luka ?

Sekarang aku campur aduk, aku yang pernah terlupa kapan harus menangis, kini justru lupa kapan harus berhenti menangis

Bukankah air mata itu berkah dari-Nya ? Aku saja , mahluk sesempurna ini tidak memilikinya

Tapi andai bisa kubilang, aku rindu padanya :'( , aku rindu baunya, aku rindu tatapan nya, aku rindu semua kata - kata nya.

Rindu itu racun, anakku .. makanya Dia menolak menyelipkannya di hatiku waktu menciptakanku dulu.

Aku juga cemburu !! Ya aku tau ini aneh, aku sudah lupa bagaimana melakukannya sejak dulu, tapi kali ini aku justru lupa bagaimana menangkalnya

Seperti pesan gabriel padaku untuk mengingatkanmu.. "kamu itu siapa"

Salahkah aku menceritakan semua lumpurku dulu ayah ? Aku takut ia jijik padaku, pada masa laluku

Sesulit petani menggemburkan sawah pasti, tapi aku yakin ia mau mengerti

Sekarang apa akhir dari rancangan Nya untukku ayah?

Biarkan ia pulang ke negri hujan

Terkubur

Aku tanah
Dengan lapisan terdalam yang kelam
Menyimpan berjuta kesalahan
Yang enggan aku lihatkan ke permukaan

Lapis demi lapis aku isi dengan dendam
Yang di gemburkan oleh rasa sakit hati yang mendalam

Aku tumbuhkan sekuntum mawar
Kurawat dan kubiarkan ia mengembang
Namun hanya mampu kupandang
Tanpa sedikitpun tanganku mampu memegang

Kubiarkan tangan tangan itu menyakitiku
Karna aku tau, dari darahku lah mereka bisa makan
Walaupun makin lama aku ditinggalkan
Dan hanya seonggok badanku yang terpakai untuk pijakan